Perempuan Dulu dan Sekarang

 

Sumber: Dokumen pribadi

 

Keberadaan seorang Perempuan masih memberi ragam pandangan dari banyak sorot mata. Ada yang menilai Perempuan hanya perlu mengurusi seorang Anak, itu lebih dari cukup, atau bahkan jadi piagam untuk Suaminya. Salah tafsir itu terus mecongkol ditengah-tengah masyarakat baik disisi Budaya, Sosial, dan Agama. Tatkala Perempuan direndahkan hanya kerena berani mengambil langkah lebih besar ketimbang seorang Laki-laki seperti halnya mengejar pendidikan maka para Perempuan akan dilabeli “Percuma bersekolah/berkuliah nanti juga akan berakhir di ranjang dan dapur”. Para Laki-laki itu tidak sadar bahwasannya untuk melahirkan Anak-anak bangsa yang hebat tentu saja perlu sosok Ibu cerdas dan berpendidikan tinggi.

Perempuan Dulu

Sudah banyak Sejarawan (Peneliti/Ahli Sejarah) mencatat Perempuan-perempuan hebat baik Lokal, Nasional, bahkan Internasional. Dimana Perempuan-perempuan bukan sekedar dibaca sejarahnya namun harus diteladani.

1. Raden Dewi Sartika (1884-1947)

Sosok pelopor Sakola Istri (Sekolah Perempuan) berasal dari tanah Sunda, namanya jarang terdengar tapi jasa begitu luar biasa pada saat itu, Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, 4 Desember 1884, seorang Perempuan dari keluarga terpandang mempunyai keinginan menjadi guru. Pada Tahun 1904, ia berhasil mewujudkan cita-cita itu di Bandung, mempunya murid sebanyak 20 orang dengan mata pelajaran seperti menyuci, menyetrika, menjahit, mencuci, menyulam, dan membatik.

Ruang kepatihan menjadi saksi hingga membuat kolonial Belanda bersimpati untuk merenovasi Sakola istri kepunyaan Dewi Sartika. Belanda memberi akomodasi dan fasilitas yang memadai untuk sekolahannya karena seiring bertambah tahun murid-murid Dewi Sartika makin bertambah banyak dan merubah nama sekolahnya dari Sakola Istri menjadi Sekolah Keoetamaan Istri hingga akhirnya menjadi Sekolah Raden Dewi.

2. Laksaman Malahayati (1550-1606)

Malahayati merupakan tokoh pejuang perempuan berasal dari kesultanan Aceh. Sosok Bangsawan ini pada tahun 1585-1604 ia dipercaya memegang jabatan Kepala Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Pemimpin Aceh pada saat itu yakni Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Sebagai sosok Perempuan ia dipercaya memimpin pasukan perang yang dimana pasukannya berjumlah 2000 orang pasukan itu dinamai Inong Bale (Pasukan Janda-janda), Inong bale sendiri merupakan ide dari Malahayati, dimana pembentukan ini dimaksudkan untuk para Janda membalas kematian suami mereka. Suami Malahayati sendiri pun tewas di medan perang melawan Portugis.

Pasukan Inong bale ini menyerbu kapal-kapal dan banteng-benteng kolonial Belanda pada tanggal 11 september 1599. Banyak catatn litelatur menyebut ia berperang dengan Pasukan Cornrlis de Houtman, Malahayati sendiri berduel diatas geladak kapal dengan Conrlis de Houtman hingga menyebabkan kematian. Berkat keberaniannya ia dianugrahi gelar Laksamanan oleh Kesultanan Aceh. Nama Laksamana oleh peneliti barat disetarakan dengan Semiramis, Permaisuri Raja Babilon, dan Katherina II, Kaisar Rusia.

Kehebatannya memimpin Angkatan perang itu pun membuat namanya diabadikan di jalan, gedung-gedung, rumah sakit, kampus, kapal-kapal, dan masih bnayak lagi

3. Olympe de Gouges (1748-1793)

Tokoh Perempuan asal Prancis, Lahir dan tumbuh besar di Negara Adidaya bukan serta-merta mendukung Negaranya sendiri yang pada saat itu bersistem Monarki absolut, ia mementang segala bentuk ketidak-adilan dengan cara menulis dan membuat drama, karena Olympe de Gouges merupakan seorang sastrawan terkemuka didataran sana.

Dengan kepiawaian dia dalam menulis banyak karya lahir dari goresan penannya, salah satu karya yang sangat terkenal yaitu teks untuk drama berjudul L'Esclavage des noirs ("Perbudakan Orang Kulit Hitam"), ia aktif mendukung gerakan penghapusan perbudakan. Namun, drama tersebut ditutup setelah hanya tiga kali pementasan, karena pemilik perdagangan budak tidak senang dengan aktifitas drama tersebeut dan membanjiri surat kabar dengan ulasan buruk dengan cara membayar pengacau untuk mengganggu pertunjukan. Lalu karya lainnya yang fenomenal adalah Déclaration des droits de la femme et de la citoyenne (Deklarasi Hak-Hak Perempuan dan Warga Negara Perempuan) tulisan itu dibuat sebagai bahan koreksi untuk Majlis Kontituet Nasional dimana majlis tersebut mengadopsi Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara, Sebagai seorang Feminis de Gouges menulis karyanya itu agara “Perempuan” juga mendapatkan hak yang sama pantas dan dapat diberlakukan dengan adil. Namun karena tulisannya ia mendapat hukuman mati yang tragis pada tanggal 3 November 1793 oleh Kaum Jacobin. Kaum Jacobin membenci semangat satir dalam karya-karyanya dan menganggap dedikasi kepada sang ratu sebagai tindakan anti-republik.

Perempuan Sekarang

Perempuan masa kini harus mampu membaca pola, bukan membaca sebagai konsumsi pribadi, dizaman saat semua orang apatis terhadap lingkungan sekelilingnya. Perempuan merupakan posisi strategis untuk membawa perubahan dimulai dari rumah, saat rumah bias menjadi wahana untuk pengembangan anak-anak bangsa.

Para Perempuan dimasa lalu sudah memberi blueprint (kerangka kerja atau peta jalan terperinci yang menjadi panduan dalam perancangan strategi, arsitektur, atau struktur suatu proyek) untuk Perempuan hari ini, jangan terbuai oleh kenikmatan teknologi, saat Perempuan sudah mulai terlena dan sudah tidak waspada maka ada yang salah dengan bangsa itu.

Perempuan-perempuan yang perlu di contoh bukan saja oleh sesama Perempuan namun juga oleh laki-laki yang kehilangan keberanian didalam jiwanya. Perempuan hebat itu adalah Marsinah, Najwa Shihab, Butet Manurung, Jumilah, Ngatinah, Fransisca Callista, Maudy ayunda, Abigail Limuria, dan Perempuan hebat lainnya

Sekarang giliran kalian para Perempuan muda yang harus meneruskan kegiatan membangun perubahan itu, jangan hanya berhenti di mereka, karena ada kutipan “Jika ingin menghancurkan suatu bangsa, maka hancurkanlah Perempuannya”.

 

Penulis: R. Mahrus

Lebih baru Lebih lama