Membuhuh Watak Buruk, Bagi Seorang Pemimpin

Bangsa ini sedari dulu hingga sekarang masih banyak yang perlu diperbaiki terkhususnya watak. Sadarkah kalian watak dapat menjadi masalah untuk kita pribadi dan orang lain, dan seorang Pemimpin harus mampu dan mengubah tiap watak buruk yang ada pada dirinya.
 Seorang Pemimpin bukan hanya berbekal kecerdasan pada isi kepalanya saja namun mampu meregulasi/mentertibkan wataknya karena sering kali Pemimpin hanya mempersolek program kerja. 

 Lantas watak itu apa? Ia adalah “sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang menjadi ciri khas seseorang”. Berdasarkan definisi diatas seorang Pemimpin harus mampu mendalami definisi tersebut. Berikut watak buruk Pemimpin yang masih berseliweran hari ini bahkan mungkin hingga nanti:

1. Merasa paling benar
“sikap egois saat seseorang menganggap pendapat atau tindakannya mutlak benar tanpa mau menerima sudut pandang orang lain” berdasarkan penjelasan tersebut merasa paling benar adalah watak yang dapat menyusahkan orang lain dan kebodohan mutlak jika seseorang tidak cepat-cepat mengubah tingkah laku itu maka jika kamu adalah seorang Pemangku jabatan atau Pemimpin dimanapun baik instansi, lembaga, organisasi atau apapun, percayalah dikritik atau diberi masukan merupakan hal pasti, maka jangan salahkan orang lain jika dirimu dijauhi banyak sebab tingkah laku mu dan jangan seolah-olah dan berpura-pura kamu tersakiti. Berbenahlah!.

 Saya beri contoh seseorang yang begitu superior pada zaman dulu namun tau batasan dan tidak merasa paling benar nama orang itu ‘Suharto’ Kenapa? Sukar dipercaya mungkin sosok yang dinilai orang begitu buruk menjadi contoh namun kita pun harus mampu melihat dari dua sisi. Sebagai bahan kajian tontonlah youtube channel Malaka berjudul “Triferi: Membedah Kausalitas antara Ekonomi dan Hukum di Indonesia” disitu Ferry Irwandi menyebut suharto bukan sosok sotoy dimana dia adalah seorang Presiden yang mau mendengarkan saran-saran dari menterinya terkhusus menteri keuangan pada saat itu agar terhindar dari krisis yang membuat masyarakat tersiksa atau nama diri suharto menjadi buruk, Ferry mendengar kabar itu dari Emil salim. Pemimpin yang terus menerus merasa paling benar tidak akan dapat kepercayaan lagi dikemudian hari.

2. Fanatik
Ini merupakan penyakit kronis yang ada dikalangan Pemimpin Indonesia, definisi Fanatik agar mudah dipahami menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia): “Teramat kuat kepercayaan atau keyakinan terhadap suatu ajaran, politik, agama, dan sebagainya” contohnya: Probowo dimana dia menyakini sepenuhnya program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang dapat memperbaiki segala masalah menurutnya, padahal sudah banyak menimbulkan masalah menurut banyak Ahli dan Akademisi. 

Penjelasan lain Fanatik menurut neurosains dapat menyebabkan pelemahan kendali kognitif; wilayah otak dACC menurun. dACC adalah wilayah otak yang bertanggung jawab atas kontrol kognitif, regulasi emosi, fleksibilitas berpikir, dan pendeteksian kesalahan logika. Ketika fungsi area ini melemah atau tertekan, seseorang akan: (1). Kehilangan kemampuan berpikir secara rasional dan objektif, (2). Menolak informasi dan bukti baru yang bertentangan dengan keyakinannya. 

Setelah mendapat informasi dari kedua penjelasan tersebut harapannya kita semua dapat berpikir secara rasional dan objektif, dan membuka alam pikir terhadap informasi serta bukti baru dari keyakinan kita sendiri. Apa guna menggenggam seerat-eratnya bila yang dipegang mata pisau?. Bukankah itu dapat mencederai jika kamu seorang Pemimpin.

3.Enggan Bertanggung Jawab
Kali ini poin terakhir saya cantumkan enggan bertanggung jawab dimana perihal ini sudah pernah ditulis oleh Mochtar lubis, enggan bertanggung jawab: Suka melimpahkan kesalahan atau lepas dari tanggung jawab atas perbuatan dan keputusan yang telah diambil.

 Misal sosok dari seorang Pemimpin yang betanggung jawab SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) saat bencana tsunami Aceh 2004, dimana dia membentuk BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi), isi kebijakannya: Memberi Status Bencana Nasional dan Open Sky-Membuka akses bagi bantuan Internasional.

 Pertanyaannya apakah Prresiden saat ini mampu melakukan hal yang sama terhadap setumpuk Bencana (Kebakaran Kalimantan, Banjir Aceh, dan Gempa Flores) yang sedang meradang di Bumi Pertiwi?.

 Bilamana Pemimpin kita masih terdapat watak-watak disebut diatas, percayalah bangsa ini tidak akan pernah kemana-kemana. Jika masih ada watak-watak tersebut akan menimbulkan lebih banyak kerugian yang diderita masyarakat. 

Penulis: R. Mahrus
Lebih baru Lebih lama