KIYAI KAMPUNG PERAWAT AKAR RUMPUT

Sumber : gemini.com

Ramainya Muktamar ke-36 Nahdatul Ulama (NU) di Jombang menjadi perbincangan hangat masyarakat. Hadirin yang datang pun beragam, mulai dari perwakilan organisasi masyarakat, partai politik, hingga tokoh nasional. Kehadiran mereka turut meramaikan momentum empat tahunan itu.

 Namun, di tengah gempita sorotan media yang terfokus pada pemilihan ketua umum dan tarik-menarik kepentingan politik, ada sudut pandang lain yang tak kalah menarik. Yakni keberadaan para kiai yang ikut rombongan Pengurus Cabang (PC) NU dari berbagai daerah. Mereka bukanlah peserta resmi muktamar. Mereka datang dengan maksud sederhana yaitu ingin bertemu guru-guru mereka atau sekadar menyaksikan dinamika organisasi besar ini dari kejauhan. 

Sebagian dari mereka adalah kiai yang sama sekali tidak masuk dalam struktur kepengurusan NU. Fokus keseharian mereka hanyalah mengajar dan membangun lingkungan pesantrennya masing-masing. Namun, mereka sadar betul bahwa NU adalah rumah besarnya. Mereka menghidupi organisasi ini tanpa dibebani kepentingan pragmatis. Cukup melihat NU tumbuh dan maju, bagi mereka itu sudah menjadi kepuasan batin tersendiri. 

Dalam ingatan kolektif warga NU, sosok ini pernah dikenal dengan sebutan populer dari Gus Dur yaitu kiai kampung. Merekalah yang membangun NU dari akar rumput. Mereka menjaga organisasi ini tetap hidup dan dikenal masyarakat, tanpa perlu bergesekan dengan ambisi struktural, apalagi bercita-cita menjadikan NU sebagai kendaraan kekuasaan pribadi.
Lebih baru Lebih lama