Pembahasan mengenai keyakinan ditempatkan pada bagian paling awal dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang diterbitkan oleh PB HMI bersama YBIC. Penempatan ini bukan tanpa alasan. HMI ingin menunjukkan bahwa sebelum seorang kader berbicara tentang perjuangan, kepemimpinan, perubahan sosial, atau bahkan intelektualitas, ia terlebih dahulu harus memahami apa yang menjadi dasar dari seluruh cara berpikir dan bertindaknya, yaitu keyakinan.
NDP memandang bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang tidak pernah benar-benar hidup tanpa keyakinan. Setiap sikap, keputusan, dan tindakan selalu berangkat dari sesuatu yang diyakini benar. Dengan kata lain, keyakinan bukan sekadar persoalan agama, melainkan fondasi kesadaran yang membentuk cara seseorang memandang realitas, menentukan pilihan, hingga mengambil tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika diamati lebih jauh, hampir seluruh aspek kehidupan manusia dibangun di atas sistem keyakinan. Dunia pendidikan berdiri di atas keyakinan bahwa ilmu pengetahuan mampu memajukan kehidupan. Sistem hukum lahir dari keyakinan bahwa keadilan harus ditegakkan. Begitu pula budaya berkembang karena masyarakat meyakini adanya nilai-nilai yang layak dipertahankan dan diwariskan. Bahkan perkembangan ilmu pengetahuan sendiri lahir dari keyakinan bahwa alam semesta dapat dipahami melalui proses berpikir yang rasional.
Karena itulah, NDP menegaskan bahwa persoalan utama bukanlah apakah manusia memiliki keyakinan atau tidak, melainkan apa yang menjadi objek dari keyakinan tersebut. Sebab, ketika sebuah keyakinan keliru, maka arah berpikir, cara bertindak, bahkan peradaban yang dibangun di atasnya juga berpotensi mengalami penyimpangan. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk terus mencari landasan keyakinan yang memiliki kebenaran yang paling kokoh dan tidak berubah oleh ruang maupun waktu.
Dalam perspektif NDP, pencarian tersebut bermuara pada pengakuan terhadap Tuhan sebagai sumber kebenaran mutlak. Kebenaran manusia bersifat relatif karena dipengaruhi oleh pengalaman, kepentingan, ruang, dan waktu. Sebaliknya, Tuhan diposisikan sebagai sumber nilai yang absolut sehingga menjadi titik pijak yang mampu memberikan arah bagi seluruh aktivitas manusia. Dengan menjadikan Tuhan sebagai dasar keyakinan, manusia tidak hanya memperoleh orientasi moral, tetapi juga memiliki ukuran yang jelas dalam menilai mana yang benar dan mana yang salah.
Konsep ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan Tuhan dalam NDP bukan hanya bersifat ritual atau spiritual semata. Hubungan tersebut juga memiliki dimensi intelektual dan sosial. Keimanan seharusnya melahirkan cara berpikir yang kritis, sikap yang adil, serta komitmen untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi. Dengan demikian, keyakinan tidak berhenti sebagai doktrin, tetapi menjadi energi yang menggerakkan perubahan sosial.
Pada bagian yang sama, NDP juga menyampaikan kritik terhadap kelompok yang disebut sebagai tradisionalis. Kritik ini tidak diarahkan kepada tradisi sebagai warisan budaya, melainkan kepada cara berpikir yang menjadikan tradisi sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan. Menurut NDP, ketika masyarakat mengalami perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan peradaban, tradisi seharusnya mampu berdialog dengan perubahan tersebut. Namun, kelompok tradisionalis justru cenderung mempertahankan bentuk-bentuk lama tanpa melakukan transformasi yang diperlukan.
Di sinilah letak kontradiksi yang disoroti oleh NDP. Tradisi yang pada awalnya hanya merupakan hasil pengalaman manusia kemudian berubah menjadi semacam lembaga yang dianggap memiliki otoritas mutlak. Akibatnya, ukuran benar dan salah tidak lagi disandarkan kepada Tuhan sebagai sumber kebenaran absolut, melainkan kepada kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. Ketika tradisi ditempatkan lebih tinggi daripada kebenaran yang bersifat universal, maka ruang untuk berpikir kritis menjadi semakin sempit dan perubahan sering kali dipandang sebagai ancaman.
Melalui kritik tersebut, NDP sebenarnya mengajak kader HMI untuk membangun cara berpikir yang terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai. Tradisi dapat dihargai selama masih selaras dengan nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari Tuhan. Sebaliknya, apabila suatu tradisi justru menghambat kemajuan, menutup ruang berpikir, atau bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan, maka tradisi tersebut perlu dikaji kembali secara kritis.
Dengan demikian, pembahasan mengenai keyakinan dalam NDP bukan sekadar menjelaskan pentingnya beriman kepada Tuhan, tetapi juga memberikan kerangka filosofis bahwa seluruh bangunan peradaban, ilmu pengetahuan, budaya, hingga gerakan sosial harus memiliki landasan nilai yang benar. Tanpa fondasi keyakinan yang kokoh dan bersumber pada kebenaran mutlak, manusia akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan, perubahan zaman, maupun konstruksi sosial yang bersifat sementara.
