By: RK
Langkah pertama setelah melalui perjalanan yang memakan waktu hampir 8% bumi berotasi, kami bertiga pun dipanggil oleh seruan dari seseorang untuk segera bergabung bersama.
Sembari berjalan, aku pun mulai melirik ke sana-kemari untuk melihat situasi apa yang sedang terjadi, berapa pikiran yang terbentuk dan siapa pemilik dari pikiran tersebut.
Setelahnya aku pun menyadari bahwa ada dua orang yang sudah ku kenal dan dua lainnya yang baru pertama kali bersentuhan dengan tanganku. Setelah mengucap salam, kita pun memperkenalkan dan dikenalkan kepada Bang Akri dan Kang Cepi.
Sesudah saling mengenal satu sama lain, Mas Mahrus, Bang Alvi, dan Kang Cepi mulai melanjutkan perbincangan yang telah terpotong. Mereka membicarakan daerah-daerah atau beberapa tempat yang ada di sekitaran Subang.
Walau aku tak pandai betul tentang tata letak suatu daerah, yang jelas mereka tengah membicarakan suatu isu, potensi, dan kekurangan yang ada atau terdapat pada daerah-daerah di Subang.
Entah apa yang mendasari mereka untuk membicarakan hal tersebut dan tujuan apa yang mereka cari, aku tak peduli dan meminta persetujuan untuk memakan makanan yang disediakan dan mulai menikmatinya.
Setelah topik silih berganti, dari yang awalnya membicarakan daerah-daerah, disusul dengan pembicaraan tentang masa lalu, percintaan, latar belakang, dan candaan tak biasa, akhirnya sampai pada apa yang menjadi inti dari forum Jumat tersebut.
“Berpikir” dimulai dari Mas Mahrus membawa pemikiran tentang tugas Pancasila. Sehabis mengantarkan pulang temannya dan mulai menanyakan ke kita semua tentang “Kenapa kita harus berpikir?” dan “Apa itu berpikir?”
Karena pertanyaan “kenapa” dapat terjawab dengan mudah, berakhir dengan tersisa satu misteri jawaban yang muncul dari “pertanyaan yang belum terjawab” tersebut.
Ini adalah romantik atau pijakan kita bertiga untuk akhirnya menyadari bahwa kita bisa bebas berpendapat dan mulai terbang dalam forum, seperti halnya elang yang akhirnya—
Seperti halnya burung elang yang dapat menyadari bahwa dia bisa terbang bebas setelah terlahir di kandang ayam, kita—terutama aku—merasakan akan dorongan untuk memulai berpendapat dengan lantang dan bebas.
Tetapi karena terlalu tiba-tiba, rasanya tubuh merasakan rasa seperti mengetahui orang yang disuka ternyata sudah mempunyai cintanya sendiri. Jantung terasa cepat dipompa, sekujur tubuh lemas/gemetar, napas terengah-engah, kepala pusing, pandangan kabur, dan seakan rasanya dunia runtuh seruntuh-runtuhnya. Seakan nafsu makan perut tidak pernah terisi, dan seperti dibius oleh kelepakan, mata sukar dikontrol, bicara seadanya, emosi bercampur, kabar baik maupun buruk dibercandakan, semua terlihat lucu, bagaikan menonton monolog bersama gibran.
Setelah kena terlebih dahulu menjawab dengan hanya berkata satu kata saja, “proses”, kemudian muncul di benak aku jawaban dan pertanyaan, “Apa itu berpikir?” aku pun dengan nada agak berkata, “Menurutku, yah… jawabannya imajinasi.”
Yap, menurutku ketika kita mulai secara sadar maupun tidak sadar memikirkan suatu tindakan maupun objek, otak memprosesnya dengan membayangkan terlebih dahulu objek atau serangkaian kejadian, dan menghasilkan apa yang menjadi keinginan sang pemikir.
Jadi intinya, berpikir adalah suatu serangkaian kejadian atau objek yang diproses dalam suatu imajinasi yang terakumulasi dari informasi-informasi yang ada dan menghasilkan apa yang menjadi pemikiran sang pemikir.
Setelahnya, Ania pun menjawab bahwa berpikir itu adalah cara manusia menganalisis dan mengobservasi suatu tindakan, namun mempunyai kelemahan terhadap ketidaksesuaian antara pemikiran dan tindakannya.
Dan yang terakhir giliran Kang Cepi untuk menjawab. Ia menyatakan bahwa berpikir adalah proses yang diawali dengan mengimajinasikan terlebih dahulu untuk menganalisis suatu peristiwa.
Ia juga memperkuat argumentasinya dengan ilmu. Hebatnya, ia bisa menggabungkan tiga pikiran dari “proses”, “imajinasi”, dan “analisis” yang muncul dari tiga kepala yang berbeda untuk dijadikannya sebuah argumentasi. Setelah itu, ia juga memperkuat argumennya dengan menambahkan ilmu komunikasi, logika, filsafat, dan juga ilmu agama. Kedalamnya.
LANGKAH PERTAMA
One Step
Setelah perbincangan tersebut usai, mulailah kembali ke pembicaraan ringan, tetapi ternyata bumi tak terasa sudah berputar kembali sekitar hampir 13%, dan kami bertiga pun bersiap untuk bergegas pulang ke rumah yang akan memakan waktu sekitar 8% bumi berotasi.
Tapi sebelum kami bertiga pulang, kami diberi tahu bahwa akan ada rencana besar dari apa yang telah terjadi di forum Jumat tersebut, dan kami pun diberi tawaran untuk ikut serta dalam kesuksesan rencana besar tersebut oleh Mas Mahrus.
